
BISARA (Bina Ruhani Sekolah Rakyat) merupakan program unggulan dalam pembinaan kerohanian bagi siswa-siswi Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) Tlogowaru, Kota Malang.
Program ini dirancang sebagai upaya sistematis untuk membentuk karakter religius, memperkuat nilai-nilai keagamaan, serta membina adab dan kepribadian siswa secara menyeluruh.
Kegiatan BISARA dilaksanakan secara rutin selama empat hari dalam satu pekan, yaitu setiap hari Sabtu, Ahad, Senin, dan Selasa pada pukul 18.00–19.00 WIB (antara waktu Maghrib hingga Isya’).
Waktu pelaksanaan ini dipilih secara strategis karena merupakan momen yang kondusif untuk pembinaan spiritual setelah aktivitas harian siswa.
Ruang Lingkup Program
Program BISARA mencakup beberapa kegiatan utama, antara lain:
- Pembelajaran Al-Qur’an, meliputi membaca (tilawah) dengan memperhatikan kaidah tajwid.
- Imla’ (menulis Arab) sebagai sarana penguatan literasi keislaman.
- Pembinaan ilmu keagamaan, yang meliputi: Fiqh (pemahaman hukum Islam), Aqidah (penguatan keimanan), Adab (pembentukan akhlak dan etika).
Peran Strategis BISARA
Sebagai program inti, BISARA memiliki peran penting dalam sistem pendidikan SRMP yang berbasis asrama (boarding school). Lingkungan berasrama menuntut adanya pembinaan kerohanian yang berkelanjutan agar siswa tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga secara spiritual dan moral.
Selain itu, program ini juga berfungsi sebagai sarana pembinaan karakter dan mental sosial siswa. Hal ini menjadi sangat relevan mengingat latar belakang siswa yang beragam, baik dari sisi keluarga, lingkungan, maupun pengalaman pergaulan sebelum memasuki SRMP.
Dalam konteks ini, BISARA hadir sebagai ruang pembinaan yang berorientasi pada perbaikan diri (self-improvement) dan pembentukan kepribadian yang lebih baik.
Peran Relawan dan Kolaborasi
Keberhasilan program BISARA tidak lepas dari kontribusi para pengajar yang tergabung dalam Relawan BISARA. Mereka secara sukarela meluangkan waktu, tenaga, dan pemikiran untuk memberikan pembinaan yang berkualitas kepada siswa.
Peran ini mencerminkan semangat kolaborasi sosial dalam pendidikan, di mana masyarakat turut berpartisipasi dalam membangun generasi yang berakhlak dan berdaya saing.
Landasan Teoretis dan Referensi
Program BISARA sejalan dengan berbagai konsep dalam pendidikan Islam dan pendidikan karakter, di antaranya:
- Pendidikan karakter berbasis nilai
Menurut Thomas Lickona, pendidikan karakter harus mencakup aspek moral knowing, moral feeling, dan moral action. BISARA mengintegrasikan ketiganya melalui pembelajaran, pembiasaan, dan keteladanan.
- Pendidikan Islam holistik
Dalam perspektif Syed Muhammad Naquib al-Attas, pendidikan Islam bertujuan membentuk manusia yang beradab (insan adabi), bukan hanya cerdas secara intelektual. Hal ini tercermin dalam fokus BISARA pada aqidah, fiqh, dan adab.
- Peran lingkungan dalam pembentukan karakter
Teori ekologi perkembangan oleh Urie Bronfenbrenner menekankan pentingnya lingkungan dalam membentuk perilaku individu. Sistem asrama yang didukung program BISARA menjadi lingkungan yang kondusif untuk pembinaan karakter.
Pembelajaran berbasis pembiasaan (habituation)
Dalam pendidikan Islam, pembiasaan ibadah dan akhlak merupakan metode efektif sebagaimana dicontohkan dalam praktik pendidikan Rasulullah ﷺ.
Hal ini juga ditegaskan dalam kitab klasik seperti Ta’lim al-Muta’allim karya Burhanuddin al-Zarnuji.
Penutup
Program BISARA merupakan bentuk nyata dari upaya pembinaan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual dan berkarakter mulia.
Dengan pendekatan yang terstruktur, dukungan lingkungan asrama, serta keterlibatan relawan, BISARA diharapkan mampu menjadi model pembinaan kerohanian yang efektif dan berkelanjutan.





